Bahaya Kekurangan Zat Besi bagi Kesehatan: Gejala, Dampak, dan Cara Mencegahnya
inutrisi.com - Zat besi merupakan mineral penting yang berperan utama dalam produksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen, yang akhirnya berdampak pada berbagai fungsi organ vital. Kondisi ini dikenal dengan istilah anemia defisiensi besi. Di Indonesia, bahaya kekurangan zat besi masih sering diremehkan, padahal dampaknya sangat serius bagi kesehatan, mulai dari penurunan produktivitas hingga risiko komplikasi jangka panjang.
![]() |
| Bahaya Kekurangan Zat Besi bagi Kesehatan: Gejala, Dampak, dan Cara Mencegahnya |
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi anemia di Indonesia mencapai 32% pada remaja putri usia 15–24 tahun. Sementara pada ibu hamil, angka kejadian anemia masih berada di atas 40%. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kekurangan zat besi bukan hanya persoalan nutrisi, tetapi juga menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius.
Gejala Awal Kekurangan Zat Besi yang Sering
Diabaikan
Kekurangan
zat besi dapat memberikan berbagai tanda dan gejala yang sering kali dianggap
sepele. Padahal, mengenali gejala awal sangat penting untuk mencegah kondisi
memburuk. Berikut adalah beberapa gejala yang perlu diwaspadai:
- Kelelahan Berkepanjangan
Tubuh yang kekurangan zat besi tidak mampu mengangkut oksigen secara optimal. Akibatnya, penderita akan merasa lelah terus-menerus meskipun tidak melakukan aktivitas berat. - Wajah Pucat dan Bibir
Memudar
Pucatnya warna kulit, terutama pada wajah, bibir, dan bagian dalam kelopak mata, menjadi salah satu tanda klasik anemia defisiensi besi. - Pusing dan Sakit Kepala
Berulang
Otak memerlukan pasokan oksigen yang cukup untuk bekerja optimal. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan aliran oksigen ke otak terganggu, sehingga sering menimbulkan pusing dan sakit kepala. - Sesak Napas saat
Beraktivitas Ringan
Jika kamu sering merasa terengah-engah hanya karena naik tangga atau berjalan kaki, bisa jadi itu adalah tanda tubuh kekurangan zat besi. - Detak Jantung Cepat
(Palpitasi)
Tubuh yang kekurangan oksigen akan memaksa jantung bekerja lebih keras, sehingga jantung berdebar lebih cepat. - Rambut Rontok dan Kuku Rapuh
Zat besi berperan dalam menjaga kesehatan rambut dan kuku. Kekurangannya dapat menyebabkan kerontokan berlebihan dan kuku menjadi rapuh atau berbentuk cekung (koilonychia). - Sindrom Kaki Gelisah
(Restless Leg Syndrome)
Beberapa orang yang mengalami defisiensi besi melaporkan sensasi tidak nyaman di kaki, terutama saat beristirahat, yang memicu dorongan untuk terus menggerakkan kaki. - Mudah Terserang Infeksi
Zat besi juga penting untuk mendukung sistem kekebalan tubuh. Kekurangannya membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
Dampak Jangka Panjang Kekurangan Zat Besi
Kondisi bahaya
kekurangan zat besi tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik jangka pendek,
namun juga berdampak serius dalam jangka panjang. Salah satu dampak utamanya
adalah penurunan produktivitas kerja dan belajar. Studi dari Journal of
Nutrition and Metabolism (2023) menyebutkan bahwa individu dengan kadar
feritin rendah memiliki risiko dua kali lipat mengalami gangguan konsentrasi
dibandingkan mereka dengan kadar normal.
Pada ibu
hamil, kekurangan zat besi meningkatkan risiko persalinan prematur, bayi lahir
dengan berat badan rendah (BBLR), bahkan kematian ibu saat melahirkan. Data
dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa anemia menjadi
penyebab 20% kematian ibu di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kekurangan
zat besi pada anak-anak dapat menghambat perkembangan kognitif, motorik, dan
imunitas. Anak yang mengalami anemia defisiensi besi cenderung memiliki daya
konsentrasi rendah, mudah lelah, dan berisiko lebih tinggi mengalami stunting.
Inilah sebabnya Dinas Kesehatan di berbagai daerah rutin mengadakan program
suplementasi zat besi di sekolah.
Penyebab Umum Kekurangan Zat Besi
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami kekurangan zat besi, di
antaranya:
- Asupan Makanan Kurang
Pola makan yang minim sumber zat besi, seperti daging merah, hati ayam, dan sayuran berdaun hijau, menjadi penyebab utama defisiensi besi. - Penyerapan Zat Besi yang
Buruk
Beberapa kondisi medis seperti penyakit celiac, infeksi Helicobacter pylori, atau konsumsi obat-obatan tertentu dapat mengganggu penyerapan zat besi di usus. - Kehilangan Darah Berlebihan
Menstruasi berat, perdarahan saluran pencernaan (misal akibat tukak lambung atau wasir), hingga donor darah terlalu sering, dapat menyebabkan cadangan zat besi tubuh menipis. - Kebutuhan Zat Besi Meningkat
Pada masa kehamilan, menyusui, atau masa pertumbuhan anak-anak, kebutuhan zat besi tubuh meningkat sehingga asupan harus ditingkatkan.
Cara Mencegah Kekurangan Zat Besi secara Efektif
Mencegah bahaya
kekurangan zat besi dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana namun
efektif. Berikut langkah-langkah pencegahan yang disarankan:
- Konsumsi Makanan Kaya Zat
Besi
Masukkan sumber zat besi heme (daging merah, hati, ikan) dan non-heme (bayam, brokoli, kacang-kacangan) dalam menu harian. Konsumsi bersama vitamin C (jeruk, tomat) agar penyerapan zat besi lebih optimal. - Suplementasi Zat Besi jika
Diperlukan
Konsultasikan dengan dokter mengenai kebutuhan suplemen zat besi, terutama bagi wanita hamil, remaja putri, dan penderita anemia kronis. - Periksa Kesehatan Secara
Berkala
Lakukan tes darah (Hb, feritin serum) secara rutin untuk memantau status zat besi, terutama jika memiliki riwayat anemia atau mengalami gejala mencurigakan. - Hindari Konsumsi Teh/Kopi
setelah Makan
Teh dan kopi mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi di usus, sehingga sebaiknya dihindari minimal 1 jam setelah makan. - Ikuti Program Suplementasi
dari Pemerintah
Manfaatkan program Tablet Tambah Darah (TTD) yang sering diberikan secara gratis oleh puskesmas atau sekolah untuk remaja putri dan ibu hamil.
.jpg)
Posting Komentar untuk "Bahaya Kekurangan Zat Besi bagi Kesehatan: Gejala, Dampak, dan Cara Mencegahnya"